HASRAT YANG TAK TERNALAR
Merupkan
sebuah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa, kita diberikan akal dan pikiran untuk
menentukan suatu yang logis serta hati untuk mensinyalir perasaan yang datang
pada diri kita. Tentunya kita harus mensyukuri anugerah yang telah diberikannya.
Kini ku bangkit dan ku hirup
udara dipagi yang sejuk ini. Ya! Kesejukan terasa kedalam jiwa dan memaksaku
untuk membuka kedua kelopak mata yang terpejam. Ku lirik ke samping tempat
tidurku dan ku pandangi sesuatu dibalik jendela, telihat daun melambai-lambai dan
kudengar merdunya kicauan burung yang seolah-olah mengajakku bangun dari tempat
tidur dan mengitari indahnya pagi hari ini. Akhirnya ku beranjak dari kasur dan
dan ku tarik handuk yang tersampai didinding lalu bergegas untuk mandi.
Tak terasa waktu terasa waktu begitu cepat berlalu, tiga tahun masa indah SMA hampir berlalu dan sebentar lagi aku akan mengalami indahnya masa Kuliah. Ku seruputi teh manis yang terletak diatas meja yang sengaja mama buatkan untukku setiap pagi. Terdiam dalam beberapa menit dalam lamunan tiba-tiba ponselku berdering di kamar tidurku, ternyata deringan alarm yang tak sempat ku matikan dini hari tadi. Sekarang aku duduk di halaman depan rumahku ku temukan beberapa cemilan yang terbungkus toples disamping kiriku. Ku mulai menggeserkan layar ponselku dan ku buka beberapa akunku di medsos, ku temukan teman SMP ku. Dia adalah Yusopa seorang teman yang baik dan cantik. Mungkin sudah dua tahun lebih kami tidak pernah bertemu bahkan mengobrol pun jarang, maka ku kirimkan pesan padanya untuk memulai obrolan dan menanyakan kabarnya.
“Ass,,
apa kabar Yus, lama tak jumpa?”
“Alhamdulillah
baik, iya kirain kamu sudah lupa denganku, bagaimana denganmu Zal? hehe”
jawabnya sambil mengisyaratkan senyuman
“Alhamdulillah
baik, ya enggaklah masa aku lupa sama orang telah melempar batu ke kepalaku
hingga benjolan dikepalaku awet tiga hari tiga malam hehe,, oh iya sekarang
kamu sekolah dimana?” aku kembali bertanya. Memang waktu itu dia melemparkan
batu dan mengenai kepalaku namun dari sanalah kita melai saling mengenal.
“ahaha,,
iya maaf ya, waktu itu aku kesal dengan tingkah temanku yang nakal menjahiliku
sehingga aku lemparkan batu padanya, eh tahunya kamu yang kena. Saat itu aku
sangat malu karena salah sasaran, viss.. ;)! sekarang aku melanjutkan disebuah
Boarding school tepatnya di Condong Tasikmalaya. Kalau kamu, bagaimana sekarang
hubunganmu dengan Laila?” Tanyanya kepadaku.
“Oh
aku masih meneruskan sekolah di Garut karena aku masih lebih nyaman tinggal di
kota yang agamis ini. Hubunganku dengan Laila baik kita kan teman. Emang kenapa
gitu?” Jawabku.
“Lohh,,
kok teman bukannya Laila adalah pacarmu?” Tanyanya kembali.
“Pacar
gimana orang dari dulu kita teman kok, bagaimana hubunganmu dengan Rival”.
Memang waktu dulu aku sempat digosipkan dengan perempuan bernama Laila itu,
tapi hubungan kami hingga saat ini tetap teman.
“Aku
kira kamu berpcaran, aku dan Rival sudah lama putus” Jawabnya.
Keasyikan
kami mengobrol tak menyadarkan kami bahwa hari sudah hampir sore, dan kurasakan
hasrat yang berbeda didalam hatiku perasaan yang berbeda dari sebelumnya
sepertinya aku telah menaruh hati kepada seseorang. Kemudian rasa itu memaksaku
untuk menyampaikannya kepada seorang wanita.
“Yus,,
sadar tak sadar sesungguhnya aku merasakan hal yang aneh yaitu perasaan yang
menggebu-gebu dalam hatiku yang tak kurasakan sebelumnya, dan sepertinya aku
telah menaruh hati kepadaku hingga akhirnya perasaan ini memaksaku untuk
mengungkapkannya kepadamu.” Jantungku berdetak kencang dan nafasku tersedu-sedu
saat kuungkapkan perasaanku yang sebenarnya.
Aku sangat bahagia melihat jawaban darinya dan jantungku pun berdetnyut lebih kencang dari sebelumnya kemudian aku pun mulai menarik nafas dalam-dalam dan mengontrolnya hingga jantungku kembali normal.
Saat itulah kami mulai menjalani hubungan indah kami sebagai sepasang
kekasih. Dan telah kusadari bahwa sebuah perasaan yang selama ini menggebu-gebu
didalam hatiku ini adalah sebuah hasrat yang tak ternalar yaitu “Cinta”.
Referensi
: Cerita ini terinspirasi dari sebuah novel yang
berjudul “MASIH” dengan penulis Novelia Indri Susanti dan novel lain yang
berjudul “DILAN” dari penulis Pudi Baiq hingga akhirnya ku kembangkan menjadi
sebuah cerpen.


